Mencari yang Terbaik

Beberapa bulan ini saya pindah kos sampai 2 kali. Yang pertama, tiga bulan lalu saya pindah dari Rawa Belong ke Setiabudi. Lalu karena tidak betah, saya pindah lagi ke Rawa Belong. Sudah satu bulan terakhir ini saya menempati kosan baru di Rawa Belong.

Padahal, selama dua tahun terakhir saya memang sudah betah hidup di Rawa Belong. Saat itu saya merasa, tidak ada kosan yang lebih baik dari kosan yang saya tempati. Kamar mungil dengan jendela menghadap pemandangan kota Jakarta (kamar saya berada di lantai 4). Lalu kamar mandi di dalam, AC, dan pakaian dicucikan oleh pembantu. Tersedia wastafel dan dapur yang luas di lantai 5. Ya, wajar saja saya merasa betah hidup di kosan itu selama dua tahun. Saya merasa tak ada yang lebih baik dari kosan itu. Tapi nyatanya memang tak ada yang sempurna di dunia ini. Saya pun memiliki sedikit masalah dengan penjaga kosan sehingga terpaksa meninggalkan kosan itu.

Saya memutuskan pindah ke daerah Setiabudi karena dekat dengan kantor. Namun, ternyata banyak sekali kekurangan dari kosan itu:

  1. Harga kemahalan
  2. Listrik sering turun
  3. Sinyal ponsel menghilang
  4. Tidak ada privacy karena ibunya yang punya kos sering datang dan mengecek kosan tersebut.

Tak heran jika saya akhirnya memilih untuk kembali lagi ke daerah Rawa Belong. Sebetulnya ini keputusan terakhir karena saya sempat cari kosan di daerah lain seperti Mampang dan Gatot Subroto. Tapi ternyata hati saya sudah tertambat dengan Rawa Belong. Akhirnya, saya menemukan kamar yang sangat nyaman, hanya berjarak beberapa kos dari kosan lama.

Setelah pindah ke kosan baru ini, saya lalu berkata pada diri sendiri: “kenapa tidak dari dulu saya pindah?”

Meskipun tidak ada jendela, kamar kos baru saya ini jauh lebih besar dari kosan saya sebelumnya. Dengan harga yang tidak berbeda jauh dengan kosan lama, saya bisa mendapat privacy, keheningan yang cukup untuk menenangkan diri, koneksi internet (LAN), baju di-laundry-kan, ada yang jaga keamanan, plus pemandangan Jakarta yang indah dari rooftop di lantai 6.

Ya, ketika kita merasa bahwa sesuatu sudah yang terbaik untuk diri kita, maka kita terkurung pada zona aman dan enggan beranjak mencari yang lebih baik. Padahal, di luar sana, masih banyak kosan yang jauh lebih baik dari kosan yang sudah saya huni selama dua tahun itu (tentu saja kosan di Setiabudi adalah pengecualian). Keengganan untuk mencari yang terbaik ini juga biasanya terjadi dalam hubungan asmara. Ketika kita mentok sama satu orang, kita akan merasa bahwa orang itu adalah yang terbaik. Padahal, dari mana kita tahu kalau ia yang terbaik jika tak ada pembanding?

Advertisements

One thought on “Mencari yang Terbaik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s