Waktu

Saya termasuk orang yang paling benci mendengar detak jam dinding. Saya pernah memajang jam dinding di kamar tanpa saya isi baterai. Saya suka jam dindingnya karena berhias mawar, tapi saya benci detak detiknya yang begitu jelas terdengar. Apalagi saya berada di kosan yang cukup individualis, hening. Sehingga, jika saya tidak sedang menyalakan televisi atau musik, detak detik jam dinding itu akan sangat mengganggu.

Selain itu, detak jam dinding selalu mengingatkan saya akan waktu yang berjalan begitu cepat. Jam dinding mungkin bisa dilepas baterainya agar waktu yang ia tunjukkan bisa berhenti. Tetapi pada kenyataannya waktu tidak berhenti bergerak. Ia bahkan berlari. Tidak akan menunggu siapa pun kecuali kita ikut berlari.

Satu hari hanya terdiri dari 24 jam. Biasanya 8,5 jam saya gunakan untuk ‘nongkrong’ di kantor alias kerja. Sisanya, 4 jam di jalan. Ya, di jalan. Namanya juga Jakarta. Dua jam pergi dan dua jam pulang. Itu sudah 10,5 jam. Kalau mengikuti saran dokter untuk tidur 8 jam sehari, demi menjaga kecantikan (eaaa), maka total sudah 18,5 jam saya habiskan. Sisanya 5,5 jam. Apa yang bisa dimaksimalkan dari sisa 5,5 jam itu?

Banyak seharusnya. Ada saatnya saya gunakan untuk menulis cerpen atau membaca buku-buku bagus (dalam standar saya -red). Selebihnya untuk main game, nonton DVD, nonton televisi (terutama kalau ada konser). Kadang juga untuk update blog, seperti yang saya lakukan sekarang.

Tapi tahukah teman, kalau BJ Habibie hanya tidur 4 jam dalam sehari? Ia adalah orang Indonesia pertama yang memegang 46 paten dalam bidang aeronautika. Jika sehari hanya 24 jam, maka 20 jam ia gunakan untuk belajar, melakukan penelitian, membaca buku, menulis buku. Selain Habibie, saya juga perah bertemu seorang dokter yang memegang 20 hak paten dalam bidang kedokteran.

Soal manajemen waktu, saya pikir itu kembali kepada target apa yang kita tetapkan untuk diri kita. Saya pernah punya teman wartawan yang juga hampir tidak mendahulukan tidur dalam daftar to-do list -nya setiap hari. Ia hanya tidur jika mengantuk, tak harus 8 jam sehari. Saya pernah mendapatinya masih mengetik ketika saya tidur dan saat saya bangun ia masih dalam posisi yang sama: mengetik. Saya pikir ia tidak tidur, ternyata waktu tidurnya adalah setengah dari waktu tidur saya.

Jika kita tak punya target dalam hidup, waktu memang hanya sebatas jam dinding yang terus berdetak. Kita tak peduli apa yang akan terjadi esok, bulan depan, tahun depan, atau lima puluh tahun lagi. Jalani saja apa adanya. Jalani saja rutinitas. Syukuri.

Tapi bagi saya, orang-orang seperti Habibie, dokter yang saya wawancara, dan teman saya itu bukannya tak mensyukuri hidup. Mereka-mereka ini yang justru sangat menghargai hidup karena memaksimalkan waktu yang diberikan Tuhan untuk kehidupannya. Jika bisa menjadi pemegang puluhan hak paten, mengapa harus menghabiskan waktu untuk tidur?

Tentu kita semua tahu hukum 10.000 jam. Jika kita ingin menjadi ahli dalam suatu bidang, berlatihlah selama 10.000 jam. Tentu saja bukan tak diselingi kegiatan lain. Jadi, ada orang yang menghabiskan seumur hidupnya untuk mencapai target 10.000 jam itu, namun ada pula yang hanya menghabiskan beberapa tahun, karena ia rajin berlatih. Atau, bahkan ada yang sampai mati pun ia tak bisa mencapai 10.000 jam latihan karena memang tidak berniat berlatih.

Kembali lagi kepada target. Ingin kau habiskan untuk apa waktumu yang terus berdetak itu? Apa yang hendak kau capai dengan 24 jam waktumu setiap hari?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s