Bangga Pakai Barang Bajakan?

Beberapa hari terakhir, timeline twitter saya ramai oleh postingan Dee Lestari yang menemukan bahwa bukunya Supernova dibajak dan dipasarkan secara online. Ada seorang pembaca Dee yang memposting foto buku bajakan itu (yang diposting oleh online shop) lalu mention ke penulisnya. Siapa tak meradang melihat jerih payahnya dibajak?

Jauh sebelum Dee Lestari meradang, sebetulnya yang harus meradang sejak dulu adalah keluarga besar Pramoedya Ananta Toer. Banyak sekali buku bajakannya yang bisa kita temui di blok m square, bahkan pinggir jalan (saya lihat di kawasan Palmerah, persis di lampu merah).

Ada pembaca Dee yang mengaku tidak tahu kalau karyanya bajakan. Bahkan Dee mengaku bahwa ada pembacanya yang minta tanda tangan di buku bajakan. Bagi yang tidak tahu kalau buku yang dipegangnya bajakan, mungkin bisa dimaafkan. Tapi bagi yang tahu? Kok ya berani-beraninya? Sama nekatnya dengan penggemar Anji (@duniamanji) yang pernah minta link download saat Anji mengumumkan bahwa single terbarunya sudah rilis. Logikanya di mana?

Sebelum pembajakan buku ramai begini, sebagai warga negara Indonesia, saya sudah kenyang dengan yang namanya pembajakan. Pembajakan software, film, musik, sampai tas. Barang KW menyebar di mana-mana. Anehnya, banyak yang bangga menggunakannya. Alasannya biasanya: harga KW lebih murah.

Tapi terutama tas, saya justru paling anti pakai tas KW. Apalagi ada juga tas-tas handmade yang kemudian dilabeli dengan merek-merek seperti Louis Voitton, Hermes, dsb (percayalah, sebagian besar pengguna tas-tas KW ini bahkan selalu salah melafalkan merek yang dia pakai). Saya lebih suka pakai tas biasa yang lebih baik tidak ada merk-nya supaya tidak ada yang mengira-ngira berapa harga tas saya, apakah itu asli atau tidak. Apalagi kalau bentuk, warna, dan desainnya tidak biasa, sehingga tidak ada lagi yang punya. Tentu saja itu asli dan the one and only. Jujur saja saya sama sekali tidak bangga pakai Louis Voitton atau Hermes, yang asli sekalipun. Buat saya desain kedua merk ini sama sekali tidak menarik. Aslinya saja tidak menarik, apalagi bajakannya. Lalu apa sih bangganya pakai barang bajakan?

Kembali lagi ke buku. Apa sih yang membanggakan membaca buku bajakan? Dibawa ke mana-mana orang segera tahu kalau itu bajakan. Kertasnya buram, covernya juga buram. Isi bukunya pun jadi mirip fotokopian (saya tahu sebab saya pernah beli buku bajakannya Pram karena sudah tidak cetak ulang di mana-mana dan saya tidak membeli buku bajakan lagi sejak itu he he he). Kalau kita pajang buku bajakan di rak buku, di samping buku-buku asli, percayalah ia akan menonjol sendiri (dalam arti jelek sendiri).

Meski konon isi buku asli dan bajakan tak ada bedanya, saya mengalami sendiri bahwa lebih nyaman membaca buku asli daripada bajakan. Dan tentu saja, dengan membeli buku asli, kita menghargai jerih payah penulisnya. Sebagai penulis, saya tahu, menulis itu tidak pernah mudah. Ada riset, ada perenungan, ada perombakan ide baik besar atau kecil yang prosesnya tak hanya berhari-hari tapi bisa berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Dan kalau kita beli bajakannya maka kita tidak menghargai proses yang dijalani para penulis itu. Kita begitu egois dengan menghalalkan perbuatan kita hanya karena alasan: saya miskin, hanya sanggup beli buku bajakan yang lebih murah. Sama halnya dengan orang-orang yang memakai tas KW. secara tidak langsung ia melabeli dirinya sendiri dengan miskin, tak mampu membeli barang asli. Apa yang dibanggakan dari hal ini?

Oke, bagaimana dengan orang-orang yang memang tak sanggup membeli buku? Seperti kata Dee Lestari, masih ada perpustakaan dan bisa pinjam teman. Kita tetap bisa membaca karya penulis dan menghargai proses intelektualnya. Apa bedanya pinjam teman dengan beli bajakan? sama-sama tidak memberi royalti kepada penulis?

Setidaknya dengan pinjam teman atau pinjam ke perpustakaan, kita menjaga agar pembajakan ini tidak semakin meluas. Jika buku bajakan tidak laku, saya yakin tak akan ada yang mau lagi jual buku bajakan. Masalahnya memang di supply and demand. Kalau demand tinggi maka supply pun akan tinggi. Kalau banyak yang cari buku bajakan, yang jual juga akan menjamur.

Selama orang Indonesia masih banyak yang bangga dan fine-fine saja pakai barang bajakan, pembajakan tidak akan pernah bisa dibasmi.

Advertisements

One thought on “Bangga Pakai Barang Bajakan?

  1. emang sih susah banget untuk lepas, walaupun sekarang kita bisa dapeting film ori dengan berlangganan streaming, musik juga lebih murah berlangganan di spotify atau liat anime dan serial tv bisa di tv berlangganan, software juga banyak yang opensource, banyak cara tapi mungkin butuh waktu untuk beralih kebiasaan.

    Aku juga ngitung – ngitung hutang ku pakai bajakan ke developer software, game, film, buku, sampek 650juta, iseng juga cerita dan nyari alternatifnya di tulisanku
    https://anggadarkprince.wordpress.com/2016/05/16/sampai-kapan-pake-barang-bajakan/

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s