Work Until You No Longer Have To Introduce Yourself

Siapa yang tak kenal Sapardi Djoko Damono (SDD)? Tanpa harus mengenalkan nama, di manapun ia berada, akan ada yang mengerumuninya. Ia tak perlu lagi susah payah memperkenalkan diri: “Nama saya Sapardi, saya penulis puisi. Buku saya bla bla bla …”

Di dunia jurnalistik, nama wartawan biasanya susah diingat. Kami sebagai reporter lapangan biasa dipanggil dengan nama media. Mba Femina, Mba Kompas, mba Tempo, Mas Tribun Jabar. Kami lebih sering ditanya apa media kami ketimbang nama kami sendiri. “Mbaknya dari media mana?” itu pertanyaan pertama yang selalu ditanyakan sang pengundang jika saya menghadiri sebuah acara. Tapi lain halnya dengan Goenawan Mohamad (GM). Beliau juga seorang jurnalis. Tapi ke mana pun ia pergi, ia tak perlu lagi memperkenalkan diri. Bahkan tanpa harus mengisi daftar tamu pun semua orang tahu kalau beliau hadir di acara itu.

Apa yang membuat GM dan SDD tak perlu lagi memperkenalkan namanya? Tentu saja bukan karena mereka sering menebar sensasi layaknya Denny JA. Silakan googling sendiri dan temukan prestasi kedua nama ini di dunia jurnalistik dan sastra.

Dalam sebuah pelatihan jurnalistik di kantor saya, salah satu pembicara workshop yang saya lupa namanya (nah, belum apa-apa saya sudah lupa nama), menantang kami semua untuk: bisakah Anda suatu hari dikenal bukan dengan embel-embel media Anda?

Misalnya begini. GM identik dengan Tempo. Mungkin dulunya GM sering memperkenalkan diri sebagai “GM dari Tempo”. Tapi lama-lama ia akan dikenal dengan GM sang penulis Catatan Pinggir. Lalu lama-lama catatan pinggirnya dilupakan dan ia dikenal sebagai GM saja. Semua embel-embel yang melekat padanya sudah tidak penting lagi. Jika Tempo (amit-amit) tutup atau tidak tutup tapi Caping sudah tak ada lagi, orang tetap akan mengenal GM sebagai GM. Saat ini, siapa sih yang masih memanggil GM dengan “GM dari Tempo?”

Sampai saat ini, masih ada saja yang menelepon saya dengan menanyakan ini mba Tenni dari *********** bukan? (ha? saya sudah 3 tahun lebih pindah dari media itu). Saya masih dikenal sebagai wartawan media anu, bukan Tenni Purwanti secara pribadi. Di dunia fiksi pun, katakanlah di Anugerah Cerpen Pilihan kemarin, tidak ada yang menyapa saya padahal saya salah satu yang ada di buku (sad!). Sehingga, ya mau tidak mau, saya yang harus memperkenalkan diri: perkenalkan, nama saya Tenni. Saya menulis cerpen bla bla bla

Jadi, jangan merasa diri sudah paling hebat kalau ke mana-mana masih harus memperkenalkan diri 🙂

Yuk, kerja kerja kerja … biar akhirnya karya kita yang akan memperkenalkan kepada dunia, siapa kita 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s