Fanatisme

Saya jadi teringat sewaktu jadi reporter online, saya pernah dilarang mewawancara Dian Sastro karena saya mengaku sangat nge-fans dengan pemeran Cinta itu. Atasan saya bilang, sebaiknya wartawan tidak meliput hal-hal yang dia sukai karena hasil liputannya bisa tidak objektif. Bisa jadi sang wartawan hanya fokus pada hal-hal baik dan lupa untuk melakukan kritik.

Saya mendebatnya dengan mengatakan, bahwa dengan menyukai narasumber, maka wartawan bisa lebih mengeksplorasi narasumbernya, sehingga ia bisa lebih bersemangat menggali informasi lebih banyak. Saya tetap bersikeras ingin wawancara Dian Sastro, dan atasan saya berpesan agar saya tidak minta foto bareng. Alasannya: biasanya dengan minta foto bareng, kita merasa inferior. Padahal kedudukan wartawan dan narasumber adalah setara, simbiosis mutualisme.

Solusinya sebetulnya mudah. Wartawan boleh-boleh saja meliput atau mewawancara idolanya, selama bisa obyektif, dan tidak ‘norak’ di depan narasumber sebab setiap kali berada di lapangan, wartawan tidak membawa namanya sendiri melainkan nama media tempat ia bekerja. Ingat kasus anggota DPR yang foto bareng Donald Trump? mungkin ia lupa sedang bawa nama institusi, apalagi judulnya ‘wakil rakyat’.

Fanatisme, di negeri ini, seperti yang kita ketahui bersama, tidak hanya menganggu profesi atau pekerjaan, tapi juga kehidupan sosial. Kita bisa lihat bentrokan antar pemeluk keyakinan karena fanatisme. Kita bisa lihat perang di dunia maya dan dunia nyata karena fanatisme berlebihan terhadap calon Presiden di Pemilu Presiden tahun lalu.

Dan, orang-orang yang fanatik memang cenderung ‘keras kepala’. Mereka akan membela mati-matian apa yang mereka puja, tanpa memberi celah sedikitpun pada kritik, bahkan kritik yang membangun sekalipun.

Saya mengalami ini. Saat saya mengkritik Idol Group di Indonesia karena menyanyi lip sync, serta merta penggemar fanatiknya ‘mengeroyok’ saya di media sosial. Mereka tidak rela idolanya dihina, meski jelas-jelas salah. Tugas penyanyi kan menyanyi, bukan mangap-mangap saja seperti ikan mas koki. Akun twitter saya dibanjiri mention, hampir seratus persen berisi makian. Idol Group anak-anak dengan penggemar yang masih anak-anak, begitulah jadinya. Saya lalu mengubah setting akun twitter saya menjadi private karena mulai terganggu.

Tidak, bukan berarti saya pengecut karena tidak mau menghadapi mereka satu-satu. Tapi waktu saya begitu berharga untuk digunakan membela diri dari serbuan orang-orang yang hanya ingin mempertahankan pendapatnya sendiri. Semakin didebat, mereka akan semakin menjadi. Tidak ada gunanya. Jadi seperti salah satu yang diajarkan oleh agama saya: untukmu agamamu dan untukku agamaku.

Biarlah saya menyimpan sendiri pendapat saya bahwa idol group itu hanya produk duplikat Jepang, hobi nyanyi lip sync dan sukses memberikan delusi yang luar biasa untuk para penggemarnya seolah-oleh mereka ‘memiliki’ personel yang mereka idolakan, padahal orangnya jauh dan boro-boro baca mention mereka yang ratusan atau ribuan. Dan mereka mungkin belum tahu kalau fanatisme mereka pada Idol Group itu pernah diteliti secara ilmiah di sini 

Saya tak perlu memaksa mereka untuk mengikuti isi kepala saya. Maka mereka juga tak bisa memaksa saya untuk mengikuti isi kepala mereka.

Saya tidak pernah terobsesi menjadi selebtweet karena tweet-tweet saya penuh pro-kontra. Sejak dulu saya tidak hobi tweet war. Saya tidak ingin hidup saya seabsurd itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s