49 Hari

Saya jarang sekali menonton film atau drama Korea, karena seringkali ceritanya sangat menjual mimpi dan pasti happy ending. Hanya satu drama Korea favorit saya sepanjang masa: Winter Sonata, sebab penuh air mata sepanjang kisahnya. Tapi kemudian posisi itu digantikan oleh 49 Days.

Drama Korea ini berkisah tentang Shin Ji-hyun (diperankan Nam Gyu-Ri) yang memiliki kehidupan sempurna: punya orang tua kaya raya dan akan segera menikah. Namun ia mengalami kecelakaan dan koma selama 49 hari. Dalam koma itu, arwah Shin Ji-Hyun bertemu dengan scheduler –penjaga jadwal kematian yang memastikan arwah seorang manusia kembali ke penciptanya. Scheduler mengatakan bahwa Shin Ji-Hyun bisa kembali ke tubuhnya asalkan ia bisa mendapatkan 3 tetes air mata murni dari orang yang sangat menyayanginya. Jika lewat dari 49 hari, maka ia tak tertolong. Ia akan dibawa scheduler menuju Sang Pencipta.

Shin Ji-Hyun awalnya menganggap remeh karena berpikir, saat ini pun semua orang sedang menangis untuknya. Orang tua, tunangannya, teman-temannya. Namun scheduler membawa Shin Ji-Hyun melihat sebuah upacara pemakaman orang lain dan mereka dapat menilai air mata dari orang-orang yang hadir. Ia terkejut karena air mata itu memiliki warna yang berbeda-beda, yang menunjukkan tingkat keikhlasannya. Jadi ada yang menangis karena sekadar turut berbelasungkawa, ada yang menangis karena ingat bahwa dirinya juga suatu hari akan mati, dan beragam alasan lain yang tak ada hubungannya dengan kemurnian cinta, tak ada hubungannya dengan orang yang meninggal.

Scheduler membawa Shin Ji-Hyun kembali ke rumah sakit untuk melihat tubuhnya yang sedang koma -yang dikelilingi oleh banyak orang. Orang tuanya tampak menangis. Tunangannya, Kang Min Ho (diperankan Bae Soo-Bin) juga sedang menangis. Tapi anehnya, tak ada satu tetes pun air mata yang masuk ke dalam kalung air mata yang kini digunakan Shin Ji-Hyun. Ia kemudian tahu, air mata yang dimaksud mengecualikan air mata orang tua dan saudara kandung karena cinta mereka adalah unconditional love. Sehingga, tentu saja, harapan Shin Ji-Hyun ada pada tunangannya, namun ternyata air mata itu air mata palsu. Tunangannya tak benar-benar bersedih pada keadaan Shin Ji-Hyun saat ini.

Arwah cantik ini kemudian gundah. Ia bingung ke mana harus mencari air mata untuk mengisi kalung itu. Dua teman dekatnya datang ke rumah sakit tetapi tidak menangis. Selama 49 hari, Shin Ji-Hyun berusaha mencari orang yang bersedia menangis untuknya. Ia kemudian sadar, hidupnya yang selama ini terasa sangat sempurna, ternyata justru sebaliknya. Ia tak punya orang yang tulus mencintainya, yang dapat menangis untuknya.

Dari halaman Wikipedia saya menemukan bahwa drama Korea ini terinspirasi pada konsep “Bardo” yang dipercaya oleh penganut Korean shamanism, yang percaya bahwa arwah manusia masih berada di bumi selama 49 hari setelah kematian, sebelum arwah itu menuju ke kehidupan lain. Saya tidak begitu paham dengan konsep ini sehingga tidak akan mengulasnya lebih dalam. Tetapi saya akui script writer 49 Days ini berhasil mengangkat sebuah kepercayaan tradisional menjadi serial drama yang modern dan menampilkan banyak aspek kehidupan sekaligus dalam sajian yang menghibur.

Menghibur, sebab sebagaimana drama Korea pada umumnya, si tokoh utama dibuat sangat lugu dan manja. Sehingga, alih-alih seram, arwah Shin-Ji Hyun ini justru sangat menggemaskan. Apalagi ketika ia harus masuk ke tubuh orang lain: seorang perempuan yang hidup dalam keputusasaan selama lima tahun akibat ditinggal mati kekasihnya. Perempuan ini aslinya pemurung, pendiam, dan hidup seperti mayat hidup, tetapi ketika dimasuki arwah Shin-Ji Hyun, malah berubah jadi gadis periang dan pembuat onar di mana pun berada.

Saya akui, 49 Days bisa membuat saya tertawa dan menangis sekaligus. Tingkah menggemaskan arwah Shin-Ji Hyun berbanding terbalik dengan kisah cintanya bersama Min Ho yang ternyata penuh kepalsuan. Ditambah lagi kisah cinta perempuan yang dipinjam tubuhnya itu, jauh lebih tragis lagi. Selama 49 hari meminjam tubuh perempuan itu, Shin-Ji Hyun sadar bahwa di dunia ini ternyata banyak perempuan yang tidak seberuntung dirinya. Di dunia ini ternyata banyak juga kepalsuan, pengkhianatan, termasuk yang dilakukan Min Ho dengan teman dekat Shin sendiri. Pantas saja temannya tidak menangis?

Saya tak akan spoiler apakah akhirnya Shin-Ji Hyun berhasil atau tidak mendapatkan 3 tetes air mata dari perasaan cinta yang murni dari 3 orang. Jika berhasil, siapa saja yang meneteskan air mata untuknya? Lantas, bagaimana ending drama Korea ini? (silakan tonton sendiri he he he).

Yang pasti, 49 Days mengingatkan saya (mungkin juga kita -saya dan Anda sebagai pembaca), bahwa bisa saja seumur hidup kita tak akan menemukan 3 orang yang tulus mencintai kita sehingga dapat meneteskan air mata untuk kita (di luar orang tua dan saudara kandung). Bagaimana jika itu terjadi padamu? Bagaimana jika itu terjadi padaku?

Tapi jika hanya berpikir satu sisi, tentu menjadi egois. Saya berusaha membalikkannya, kepada siapa air mata tulus saya akan mengalir? Apakah seumur hidup saya dapat menitikkan air mata murni untuk orang lain yang saya cintai dengan tulus? Bukan karena menangisi diri sendiri?

Drama ini memberi pertanyaan itu kepada saya -dan kita sebagai manusia, dan mengingatkan tanpa menggurui, bahwa seringkali air mata juga bisa menjadi dusta paling keji.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s